Apakah Industri Perangkat ICT Indonesia Masih Punya Prospek? October 17, 2007
Posted by Mas Wigrantoro Roes Setiyadi in Galery ICT.trackback
Di tengah persaingan bisnis global produk perangkat ICT, ada pertanyaan yang layak dijawab, apakah industri perangkat ICT Indonesia masih punya prospek, baik di pasar dalam negeri, regional, maupun global? Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 90% investasi operator telekomunikasi dalam membangun jaringan berupa perangkat yang diperoleh dari impor. Demikian juga bila kita perhatikan perangkat ICt seperti komputer, handset telepon selular dan lain sebagainya didominasi oleh produk-produk asing.
![]()
Pemihakan kepada produk dalam negeri setidaknya pernah ditunjukkan oleh Pemerintah, bahkan yang sampai kini masih dirasakan adalah belum diterbitkannya lisensi penyelenggaraan WIMAX oleh Pemerintah (BRTI/Ditjen Postel) dengan alasan karena masih menunggu tersedianya perangkat WIMAX produksi dalam negeri. Di satu pihak terasa ada harapan Pemerintah dan masyarakat terhadap perangkat ICT produksi dalam negeri. namun demikian pada kenyataannya harapan tersebut serasa menjadi utopia belaka mengingat, hampir tiada satupun perusahaan dalam negeri yang benar-benar mampu merancang, membangun dan sukses memasarkan perangkat WIMAX.
Harapan dapat dibangunnya perangkat ICT khususnya WIMAX oleh produsen dalam negeri hanya salah satu contoh saja. Jauh sebelum itu, ada Keputusan Presiden nomor 16 tahun 1993 yang pernah sangat popular dalam pengadaan barang, hakikat dari Keppres ini (dan Keppres lain yang isinya senada) adalah untuk memacu penggunaan produk dalam negeri di kalangan pemerintahan maupun BUMN. Teorinya, jika sisi permintaan di-intervensi maka dampaknya dapat dirasakan di sisi penawaran, yakni berupa makin meningkatnya kapasitas produksi (karena menyadari ada captive market yang dilindungi oleh regulasi). Jaminan sisi permintaan (dengan regulasi) idealnya akan diikuti dengan perubahan yang mengarah pada peningkatan kualitas dan kuantitas produk dalam negeri, mengingat di sisi lain pemerintah uga sudah tidak dapat lagi menerapkan kebijakan entry barrier berupa tarif bea masuk tinggi bagi produk-produk luar negeri. Kompetisi (dengan produk luar negeri) akan memacu peningkatan kapasitas produsen dalam negeri, apalagi ada kebijakan proteksi yang bersifat non-kuota.
Namun demikian, harapan tinggallah harapan, kebijakan yang sudah cukup bagus, dalam implementasinya tidak dapat menolong industri dalam negeri. Di mana yang perlu diperbaiki? pertama, mari kita bicara manusianya. Mentalitas pengusaha produsen perangkat ICT dalam negeri, dinilai masih belum memiliki ketrampilan bersaing, begitu ada regulasi proteksi terlena. di pihak lain, manusia pengguna juga belum bisa memberi apresiasi kepada produk-produk dalam negeri. Masih lebih suka dengan produk luar negeri, Alasan bisa berbagai macam. Kedua, mari kita bicara sistem pasar. Sstem Pasar Indonesia merupakan pasar terbuka bagi siapa saja. Meski ada regulasi yang bernuansa proteksi, namun karena ketersediaan barang-barang produk luar negeri yang lebih berkualitas ditambah dengan strategi pemasaran yang lebih bagus dibandingkan produsen dalam negeri, serta masih sedikitnya apresiasi orang Indonesia terhadap produk sendiri, maka lambat laun, pangsa pasar perangkat ICT produk dalam negeri semakin kecil dan mengencil. Ketiga, mari kita bicara sumber investasi. Dari semua perusahaan telekomunikasi yang ada di Indonesia, tidak ada satupun yang sepenuhnya dimiliki oleh investor Indonesia. Bahkan PT. Telkom-pun hampir separo sahamnya dimiliki oleh investor asing melalui bursa saham. Apalagi di Telkomsel (Singtel), Indosat (STT-Temasek), XL (Telkom Malaysia), 3 (Hutchinson), NTS (Maxis dan Arab Saudi). Sebagai investor mereka perlu diyakinkan bahwa investasinya akan kembali dalam bentuk dividend. Untuk itu, mereka bersedia membeli perangkat yang handal agar investasinya aman. Nah, di sinilah akar permasalahannya. karena perangkat ICT produk Indonesia dinilai tidak berkualitas dan tidak didukung oleh layanan pyrna jual yang memadai, maka preferensi operator telekomunikasi ketika membangun jaringan tentu saja lebih besar kepada produk luar negeri yang dianggap lebih berkualitas dari pada membeli produk Indonesia.
Bagaimana bila hal-hal seperti yang sekarang terjadi pada industri perangkat ICT di Indonesia terus berlangsung? komentar menyedihkan, “emang gue pikirin… alias EGP”. komentar setengah kasihan, “iya ya.. kasihan juga mereka yang berbisnis di industri ini”, komentar sok pinter “ya kita larang saja, produk asing masuk Indonesia”, komentar bijak “mari kita pikir dengan seksama, selain itu, sama pentingnya dengan berpikir adalah adanya komitmen dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk di pihak lain ada komitmen untuk menggunakannya” mudah menulis komentar bijak, sulit sekali mengoperasionalkannya.
jadi dapat disimpulkan bahwa masih atau tidak adanya prospek perangkat ICT Indonesia sebenarnya ditentukan oleh kita sendiri, bukan oleh globalisasi yang seringkali dituduh jadi biang keladi runtuhnya industri.*****
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
Rempoa, 17 Oktober 2007



Comments»
No comments yet — be the first.