jump to navigation

Lupa Menyebabkan Gap Antara Harapan Dan Realita February 7, 2008

Posted by Mas Wigrantoro Roes Setiyadi in Blogroll.
trackback

Ternyata lupa itu menyakitkan, sakit bagi yang dilupakan, tidak terasa bagi yang melupakan. Aku tak tahu, apakah lupa itu penyakit, watak, atau tindakan. katakan lupa itu penyakit, lalu apa penyebab sakit lupa? virus? bakteri? racun?

Katakan lupa itu watak, lalu kenapa ia tidak permanen, seperti layaknya watak baik, buruk, culas, jujur, yang acapkali tidak berubah dari waktu ke waktu, melekat menjadi sifat manusia. Apakah ada sifat lupa pada manusia? Konon demikian kata sahibul hikayat, dikatakan “manusia tempatnya lupa”. Tetapi bukankah itu hanya pemanis untuk minta dimaafkan belaka?

Katakan lupa itu tindakan, lalu apakah lupa suatu kesengajaan? sebagaimana pada umumnya tindakan?padahal, orang lupa seringkali bukan karena kesengajaan, namun karena lupa itu tadi. Wujud lupa, manusia tidak melakukan apa yang seharusnya atau diharapkan dilakukan, artinya lupa menjadikan ada kesenjangan antara harapan dan realita. Tetapi bukankah kesenjangan – kesenjangan lain bukan karena lupa, melainkan karena faktor dan sebab lain.

Kemaren aku lupa memberi ucapan selamat tahun baru kepada anak bungsuku, benar-benar lupa, entah kenapa. Kalau alasan sibuk kerja, apalah kerjaanku sehingga tidak bisa menyempatkan menelepon anak yang sekolah di luar kota, dan tinggal di asrama. Tidak ada alasan lain selain lupa.

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal dua februari pagi aku juga lupa hari ulang tahun anak sulungku, tetapi aku diselamatkan oleh anaku nomor dua, ia mengingatkan hari itu hari ulang tahun kakaknya. Kemaren pagi, tidak ada yang mengingatkanku. bahkan istriku tidak juga. Ia menganggap aku selalu ingat ultah anak-anakku.

Anak bungsuku menangis, bapaknya tidak memberi selamat apalagi kado ulang tahun. Dalam perjalanan menyetir mobil dari Bogor ke Jakarta, aku tertegun, begitu besar harapan anak pada bapaknya, hanya ucapan selamat yang dia minta, dan tak se-huruf es-em-es pun atau sesuarapun, terlontar ucapan selamat dari-ku bapaknya. Apa aku sengaja? Apa aku tidak cinta anakku? Tidak itu semua. Bukan sengaja. Aku sayang anak-anakku. Penyebabnya, bagiku sederhana, lupa.

Tetapi malam ini aku sempatkan untuk berpikir dan merenung, mengapa aku bisa lupa hari penting ulang tahun anakku. Mungkin karena bagiku ulang tahun tidak terlalu penting. Mungkin karena kebiasaanku setiap hari lahirku, bukan aku yang menunggu diselamati, tetapi aku yang menelepon ibu-bapakku. Kuucapkan terima kasih kepada mereka, aku telah mereka lahirkan, dan pada hari itu aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk berterima kasih kepada mereka, kedua orang tuaku.

Ketika aku masih sekolah di kampung, semasa SD hingga SMP, kebiasaan yang kami lakukan bukan merayakan hari ulang tahun, setiap hari dan pasaran (misal hari lahir saya hari Jum’at, pasar: Kliwon) yang sama dengan hari anak-anak (kami bertujuh), orang tuaku selalu membuat “bubur abang-putih” ditambah satu gelas air putih yang diisi bunga mawar, kenanga dan melati.Bapak atau ibuku berdoa, mendoakan supaya anak-anaknya dapat menjadi orang yang beriman dan bertaqwa, berguna bagi diri sendiri, keluarga, negara dan bangsa.

Jadi – barangkali – tanpa saya sadari, dalam kamusku, ulang tahun model barat setiap tanggal lahir, kurang menjadi budaya di kehidupanku. Barangkali karena itulah, maka aku tidak peduli dengan ulang tahunku sendiri, ulang tahun istri, atau ulang tahun perkawinan kami. Padahal rupanya, bagi istri ulang tahun perkawinan merupakan moment yang paling ingin selalu dikenang, bagi saya lha itu khan hanya sebuah moment dari ber-ribu moment yang terjadi dalam perjalanan hidupku.

Tetapi tidak demikian halnya dengan anak, sebelum-sebelumnya aku selalu upayakan ingat hari ultah mereka. Saya maklumi mereka tumbuh di alam yang sangat berbeda dengan lingkungan ketika saya seusia mereka sekarang.

Aku masih berusaha mencari penyebab mengapa akhir-akhir ini, aku sering lupa. Sabtu tanggal 2 februari kemaren misalnya, selain hampir lupa ultah anak sulungku, aku juga lupa untuk hadir sebagai pembicara dalam diskusi tentang memasyarakatkan sains dengan memanfaatkan ICT yang diadakan oleh teman-teman NetSains. Padahal siang itu aku sudah berada di suatu gedung di sebelah gedung tempat acara berlangsung. Tetapi benar-benar aku lupa, lupa aku benar-benar, sampai malu rasanya, ketika dihubungi oleh panitia, sesudah acara usai.

Lupa, menyebabkan gap antara harapan dan realita. Itulah pemahaman yang baru saja kusadari. Aku beruntung, anak bungsuku mau memaafkan bapaknya. Mudah-mudahan tanggal 12 februari di hari ulang tahun anak keduaku aku tidak lupa. Atau di hari-hari penting mereka aku tidak lupa. Kalau  lupa? Wah celaka.***** 

Advertisements

Comments»

1. peli - October 10, 2008

Aku bingung jga,,,., apa arti “LUPA” ??? Kalau ada yang lebih mengerti tentang arti “LUPA” ,.,.,.minta untuk dijelaskan .,., ????

2. siti nur aisyah - October 12, 2008

aq juga pelupa je masak aq masak air lupa ngakatnya sampai aiarnya habis<padahal aq masi h muda umur q baru 15 tahun,apakah sifat pelupa merupakan gejala penyakit otak tolong jelaskan??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: