jump to navigation

Kiat Memahami Iklan Tarif Telepon Selular April 20, 2008

Posted by Mas Wigrantoro Roes Setiyadi in Galery ICT.
2 comments

Bagi masyarakat awam yang merasa dibuat bingung oleh gencarnya perang iklan yang dilancarkan oleh operator telepon selular, berikut kiat “membaca” iklan tarif telepon selular.

Tidak ada makan siang gratis (there is no such free lunch), maknanya utuk memperoleh sesuatu, termasuk layanan telekomunikasi, tidak ada yang gratisan, seberapa kecil angka rupiah yang ditawarkan, tetap saja pengguna harus membayar.

Yang ditagihkan kepada pengguna adalah durasi persambungan, bukan lamanya Anda bicara. Jadi, meskipun yang ditelepon, atau penelepon tidak berbicara, namun tagihan atau pengurangan deposit (bagi pengguna prepaid) akan berjalan terus sejak kedua telepon tersambung (connected).

Tagihan penggunaan telepon menggunakan dasar durasi, jarak, sifat sambungan dan jenis percakapan. Satuan waktu untuk mengukur durasi yang sekarang lazim digunakan adalah detik. Jarak dibagi menjadi dua: lokal dan jarak jauh (sambungan langsung jarak jauh /sljj). Sambungan lokal terjadi ketika nomor pemanggil dan yang dipanggil dua-duanya  diterbitkan dari area (kota) yang sama dan ketika terjadi pemanggilan berada pada area yang sama pula. Misalnya, A dan B adalah dua nomor yang diterbitkan di kota Jakarta, pada waktu terjadi persambungan, A dan B ada di kota Jakarta. Sambungan SLJJ terjadi ketika A (dari Jakarta) menelepon B yang sedang berada di kota lain, misalnya Denpasar.

Sifat sambungan terdiri dari ON-NET dan OFF-NET. ON-NET adalah sambungan (lokal atau sljj) antara dua pelanggan sesama operator. Misalnya, A dan B sama – sama pelanggan operator “ABC”. Ketika A memanggil B, maka sambungan semacam ini disebut ON-NET. OFF-NET adalah sambungan (lokal atau sljj) antara dua pelanggan yang berbeda operator. Misalnya, C adalah pelanggan operator “ABC”, sedangkan D pelanggan operator “ZYX”. Ketika D memanggil C sambungan semacam ini disebut OFF-NET.

Jenis percakapan dapat digolongkan menjadi: mobile ke mobile, mobile ke fixed (Public Switch Telephone Network/Fixed Wireless Access), fixed (PSTN/FWA) ke mobile, dan fixed  ke fixed. Yang termasuk layanan mobile adalah penyelenggara GSM dan 3G (Telkomsel, Indosat Matrix dan Mentari, XL, 3, NTS) dan CDMA (Mobile-8, SMART, Sampoerna). Yang termasuk fixed adalah penyelenggara telepon tetap (Telkom) dan telepon tetap dengan limited mobility (Flexi, StarOne, Esia).

Untuk melayani sambungan OFF-NET dibutuhkan interkoneksi (keterhubungan antar operator), dan atas penggunaan interkoneksi ini timbul biaya yang ditagihkan kepada pengguna.

Jadi, dalam keadaan normal, untuk sambungan ON-NET harga yang harus dibayar oleh pengguna adalah:  tarif per detik x durasi persambungan x jarak. Pada beberapa operator telepon bergerak selular, untuk pecakapan ON-NET jarak tidak dihitung, karena dianggap dalam satu jaringan sendiri. Sehingga formula di atas menjadi: tarif per detik x durasi. Misalnya A menelepon B (dua-duanya pelanggan suatu operator) selama 5 menit, dan tarif per detik Rp. 15,- maka biaya yang harus dibayar A adalah: 15 x 5 x 60 = Rp. 4.500,-

Dalam suatu masa promosi, ketika ada operator mengiklankan Rp. 0,- dengan ketentuan “berlaku untuk 5 menit setelah berbicara 5 menit”, maka ini artinya operator bersangkutan memberi diskon 50%. Hitung-hitungannya, durasi persambungan 10 menit, yang mestinya membayar Rp. 9.000,- namun pelanggan hanya membayar Rp. 4.500,- yang setara untuk durasi 5 menit. Bagaimana bila durasi persambungan hanya 4 menit? Jawabnya, tidak ada diskon, alias tetap harus membayar 15 x 4 x 60 = Rp. 3.600,-. Atau bagaimana bila persambungan hanya 7 menit? Yang ditawarkan kan untuk percakapan 10 menit, bila Anda hanya menggunakan 7 menit, maka penggunaan semacam ini di luar dari yang ditawarkan, alias penelepon tetap saja harus membayar 15 x 7 x 60 = Rp. 6.300,-

Dalam suatu masa promosi, ketika ada operator mengiklankan “bicara 2 menit gratis 3 menit” maka ini sama saja operator tersebut memberikan discount 60%. Bagaimana bila durasi persambungan hanya 3 menit, ya yang 2 menit bayar penuh, yang satu menit tidak harus bayar, pengguna hanya memperoeh discount 33.3% saja. Bagaimana bila durasi persambungannya 6 menit, pemanggilan akan ditagih untuk 2 menit pertama, dan 1 menit sesudah menit ke 5, total 3 menit, atau pelanggan memperoleh discount 50%. Bagaimana bila durasi persambungnan 9 menit? Pemanggil akan ditagih untuk penggunaan selama 6 menit ( 2 menit pertama, ditambah 4 menit setelah menit ke lima).

Dalam suatu masa promosi, ketika operator mengiklankan Rp. 0,00000000..1/ detik sepuasnya, dengan ketentuan berlaku setelah 90 detik pertama, untuk waktu penggunaan tertentu. Ide iklan semacam ini mirip seperti ketika kita makan di restauran yang menawarkan all you can eat. Dengan satu harga boleh makan sepuas dan sekenyangnya. Jika dicermati, meski kita boleh habiskan seluruh makanan, namun tidak pernah ada orang yang mampu menghabiskan semua hidangan yang tersedia. Bagaimana hitungannya?  Tidak beda jauh dengan contoh di atas. Tarif yang diberlakukan untuk OFF-NET per detik Rp. 25,0 sedangkan untuk ON-NET tarif per detik Rp. 15,-. Contoh, untuk persambungan OFF-NET selama 120 menit atau 2 jam, maka yang harus dibayar pemanggil adalah: (25 x 3 x 60) + (117 x 60 x 0.0000000001) = Rp.4.500,000702 atau dibulatkan menjadi Rp.4.500,-. Bagaimana untuk persambungan 5 menit, 10 menit, 60 menit, dan menit – menit lainnya? Jawabnya sama, pemanggil membayar Rp. 4.500,-. Apakah operator tidak merugi? Bisa YA, bisa juga TIDAK. Jika restauran all you can eat saja masih bisa survive dan malah bertambah besar, rasanya operator telepon yang menawarkan promosi seperti ini tidak akan rugi. Bagaimana bisa? Ada sebuah riset yang mencatat statistik penggunaan telepon, ternyata rata-rata persambungan berkisa antara 3 sampai dengan 5 menit. Jika demikian, maka sebenarnya operator tersebut sedang menawarkan discount antara 20 – 40%.***** 

Advertisements

Apakah Industri Perangkat ICT Indonesia Masih Punya Prospek? October 17, 2007

Posted by Mas Wigrantoro Roes Setiyadi in Galery ICT.
add a comment

Di tengah persaingan bisnis global produk perangkat ICT, ada pertanyaan yang layak dijawab, apakah industri perangkat ICT Indonesia masih punya prospek, baik di pasar dalam negeri, regional, maupun global? Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 90% investasi operator telekomunikasi dalam membangun jaringan berupa perangkat yang diperoleh dari impor. Demikian juga bila kita perhatikan perangkat ICt seperti komputer, handset telepon selular dan lain sebagainya didominasi oleh produk-produk asing.

photo-3.jpg
Pemihakan kepada produk dalam negeri setidaknya pernah ditunjukkan oleh Pemerintah, bahkan yang sampai kini masih dirasakan adalah belum diterbitkannya lisensi penyelenggaraan WIMAX oleh Pemerintah (BRTI/Ditjen Postel) dengan alasan karena masih menunggu tersedianya perangkat WIMAX produksi dalam negeri. Di satu pihak terasa ada harapan Pemerintah dan masyarakat terhadap perangkat ICT produksi dalam negeri. namun demikian pada kenyataannya harapan tersebut serasa menjadi utopia belaka mengingat, hampir tiada satupun perusahaan dalam negeri yang benar-benar mampu merancang, membangun dan sukses memasarkan perangkat WIMAX.

Harapan dapat dibangunnya perangkat ICT khususnya WIMAX oleh produsen dalam negeri hanya salah satu contoh saja. Jauh sebelum itu, ada Keputusan Presiden nomor 16 tahun 1993 yang pernah sangat popular dalam pengadaan barang, hakikat dari Keppres ini (dan Keppres lain yang isinya senada) adalah untuk memacu penggunaan produk dalam negeri di kalangan pemerintahan maupun BUMN. Teorinya, jika sisi permintaan di-intervensi maka dampaknya dapat dirasakan di sisi penawaran, yakni berupa makin meningkatnya kapasitas produksi (karena menyadari ada captive market yang dilindungi oleh regulasi). Jaminan sisi permintaan (dengan regulasi) idealnya akan diikuti dengan perubahan yang mengarah pada peningkatan kualitas dan kuantitas produk dalam negeri, mengingat di sisi lain pemerintah uga sudah tidak dapat lagi menerapkan kebijakan entry barrier berupa tarif bea masuk tinggi bagi produk-produk luar negeri. Kompetisi (dengan produk luar negeri) akan memacu peningkatan kapasitas produsen dalam negeri, apalagi ada kebijakan proteksi yang bersifat non-kuota.

Namun demikian, harapan tinggallah harapan, kebijakan yang sudah cukup bagus, dalam implementasinya tidak dapat menolong industri dalam negeri. Di mana yang perlu diperbaiki? pertama, mari kita bicara manusianya. Mentalitas pengusaha produsen perangkat ICT dalam negeri, dinilai masih belum memiliki ketrampilan bersaing, begitu ada regulasi proteksi terlena. di pihak lain, manusia pengguna juga belum bisa memberi apresiasi kepada produk-produk dalam negeri. Masih lebih suka dengan produk luar negeri, Alasan bisa berbagai macam. Kedua, mari kita bicara sistem pasar. Sstem Pasar Indonesia merupakan pasar terbuka bagi siapa saja. Meski ada regulasi yang bernuansa proteksi, namun karena ketersediaan barang-barang produk luar negeri yang lebih berkualitas ditambah dengan strategi pemasaran yang lebih bagus dibandingkan produsen dalam negeri, serta masih sedikitnya apresiasi orang Indonesia terhadap produk sendiri, maka lambat laun, pangsa pasar perangkat ICT produk dalam negeri semakin kecil dan mengencil. Ketiga, mari kita bicara sumber investasi. Dari semua perusahaan telekomunikasi yang ada di Indonesia, tidak ada satupun yang sepenuhnya dimiliki oleh investor Indonesia. Bahkan PT. Telkom-pun hampir separo sahamnya dimiliki oleh investor asing melalui bursa saham. Apalagi di Telkomsel (Singtel), Indosat (STT-Temasek), XL (Telkom Malaysia), 3 (Hutchinson), NTS (Maxis dan Arab Saudi). Sebagai investor mereka perlu diyakinkan bahwa investasinya akan kembali dalam bentuk dividend. Untuk itu, mereka bersedia membeli perangkat yang handal agar investasinya aman. Nah, di sinilah akar permasalahannya. karena perangkat ICT produk Indonesia dinilai tidak berkualitas dan tidak didukung oleh layanan pyrna jual yang memadai, maka preferensi operator telekomunikasi ketika membangun jaringan tentu saja lebih besar kepada produk luar negeri yang dianggap lebih berkualitas dari pada membeli produk Indonesia.

Bagaimana bila hal-hal seperti yang sekarang terjadi pada industri perangkat ICT di Indonesia terus berlangsung? komentar menyedihkan, “emang gue pikirin… alias EGP”. komentar setengah kasihan, “iya ya.. kasihan juga mereka yang berbisnis di industri ini”, komentar sok pinter “ya kita larang saja, produk asing masuk Indonesia”, komentar bijak “mari kita pikir dengan seksama, selain itu, sama pentingnya dengan berpikir adalah adanya komitmen dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk di pihak lain ada komitmen untuk menggunakannya” mudah menulis komentar bijak, sulit sekali mengoperasionalkannya.

jadi dapat disimpulkan bahwa masih atau tidak adanya prospek perangkat ICT Indonesia sebenarnya ditentukan oleh kita sendiri, bukan oleh globalisasi yang seringkali dituduh jadi biang keladi runtuhnya industri.*****

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
Rempoa, 17 Oktober 2007